Apa yang Harus Dilalui Seseorang Agar Benar-Benar Tercerahkan? (Bagian 3)
-
Kamu seharian tergeletak di kasur, tidak belajar tidak berolahraga, berkhayal rezeki jatuh dari langit, siang hari pengecut menghadapi masalah, malam hari bergadang meratapi perasaan, mengenang hal-hal sepele yang tak berarti — dengan kondisimu seperti ini, atas dasar apa kamu merasa dirimu istimewa? Orang yang sepenuhnya pasrah dan “bailan” (bai-lan — menyerah dan membiarkan semuanya hancur), berdamai dengan diri sendiri, hidupnya sangat bahagia. Orang yang setiap saat berjuang keras, bergulat dengan kehidupan, juga sangat bahagia. Hanya mereka yang terombang-ambing di antara dua pilihan ini, yang tidak teguh pendirian, yang paling menyedihkan dan paling menderita.
-
Saya menyarankan semua anak muda yang penuh keraguan untuk membaca berulang-ulang kalimat ini: “Semua penilaian dan komentar orang lain bersifat sementara, hanya pengalaman dan pencapaianmu sendiri yang menemanimu seumur hidup. Hampir semua kekhawatiran dan ketakutan berasal dari imajinasimu sendiri; hanya ketika kamu benar-benar melakukannya, kamu akan menemukan betapa menyenangkannya hal itu.” Kenang kembali apa yang terjadi hari itu, orang-orang yang ditemui, renungkan apakah perilakumu sudah tepat, apakah ada waktu yang terbuang, dan apakah ada kemajuan dibanding kemarin.
-
Saya sangat menyukai sebuah ungkapan: “bu po bu li” (tidak hancur tidak berdiri — harus dihancurkan dulu baru bisa dibangun kembali). Ada hal-hal yang harus dihancurkan, harus dilepaskan, agar kehidupan baru bisa muncul. Entah itu orang yang menguras energimu, atau hal-hal yang membuatmu takut dan cemas, ataupun dirimu sendiri yang rapuh dan sensitif — kamu harus menghancurkannya agar bisa terlahir kembali. Orang-orang takut akan perubahan, dulu saya juga begitu. Saya takut pada hal yang tidak diketahui, takut pada lingkungan asing, takut pada orang yang tidak dikenal, jadi saya enggan mengubah diri. Tapi sekarang saya baru paham, perubahan justru berarti kemajuan.
-
Jangan pernah mengeluh. Tanda kedewasaan seseorang adalah mengubah keluhan “kenapa ini terjadi padaku” menjadi kesadaran “apa yang ingin diajarkan oleh kejadian ini padaku”. Saat kamu mengubah sudut pandang terhadap dunia, kamu akan menyadari: semuanya adalah pengaturan yang terbaik.
-
99% kecemasan berasal dari menyia-nyiakan waktu dan tidak mengerjakan sesuatu dengan sungguh-sungguh. Satu-satunya solusi adalah bergerak — seriuslah menyelesaikan pekerjaan, kalahkan kecemasan, kalahkan momen-momen kosong di hati, bukan memilih untuk melarikan diri. Jangan berdiri di tempat dan membayangkan kesulitan; tindakan selalu menjadi cara terbaik untuk mengubah keadaan.
-
Beranilah merangkul kesuksesan. Saya sangat setuju dengan perkataan Luo Xiang ini: “Kamu takut tampil di depan umum, takut dipermalukan, takut menjadi orang penting, takut memikul tanggung jawab — sebenarnya kamu takut pada kesuksesan. Kamu takut sukses, bagaimana mungkin kamu bisa sukses?”
-
Seringkali, belajarlah untuk berjalan berlawanan arah. Misalnya saat semua orang belajar cara membaca orang lain, kamu justru belajar cara membuat orang lain membaca dirimu. Ketika kepasifan ini berubah menjadi keaktifan, kamu akan menemukan dunia baru. Kebijaksanaan sejati selalu bertentangan dengan naluri dasar manusia — hal ini bisa diterapkan juga di aspek-aspek lainnya.
-
“Sakit hati” muncul karena kamu tidak menghormati prinsip pertukaran nilai; marah muncul karena pengalamanmu masih terlalu sedikit; “mengeluh” muncul karena lingkungan keluargamu terlalu buruk, dan kamu sendiri juga belum berusaha sekuat tenaga untuk membalikkan keadaan. Inilah esensinya.
-
Tidak ada yang akan menolong orang yang sama sekali tidak bernilai. Kamu harus mengelola dirimu dengan baik — meskipun jatuh ke titik terendah, kamu tetap harus punya sesuatu yang bisa dipertukarkan dengan orang lain. Inilah hukum orang kuat. Tahukah kamu apa kemampuan tingkat tertinggi? Yaitu ketika semua orang mengira kamu sudah tidak punya jalan keluar, tapi kamu justru bisa bangkit dari kematian, menyelesaikan semua kesulitan, membalikkan keadaan. Air yang mencapai jurang menjadi air terjun yang indah; manusia yang mencapai titik terendah akan terlahir kembali.
-
Orang dewasa hanya bisa disaring, tidak bisa dididik. Manusia mengajari manusia, tapi pelajaran hidup cukup sekali saja. Menderita kerugian itu seperti makan — tidak bisa diwakilkan; semakin banyak mengalaminya, semakin kamu tumbuh dewasa.
-
Peranmu bukanlah untuk selamanya menyenangkan semua orang. Jangan merasa menolak orang lain adalah dosa besar — perasaanmu sendirilah yang paling penting. Lebih perhatikan perasaanmu sendiri, kamu akan mengurangi “neihao” (nei-hao — gesekan internal / pengurasan diri).
-
Jangan sekali-kali ikut campur urusan orang lain atau mencoba mengubah orang lain. Lingkungan hidup dan lintasan hidup setiap orang berbeda-beda — tidak ikut campur, tidak memaksakan campur tangan dalam kehidupan orang lain, tidak memaksakan nilai-nilaimu — itulah bentuk penghormatan tertinggi terhadap kehidupan orang lain.
-
Kamu bukan Buddha, tidak punya kewajiban menyelamatkan semua makhluk. Jangan suka menggurui orang lain, jangan membongkar keburukan orang lain. Perbanyaklah berkata “keren!”, “666”, “hebat!” — maka 90% orang licik akan teratasi. Perbanyaklah berkata “iya iya iya, oh oh oh” — maka 90% sampah informasi akan tersaring.
-
Seringkali, kamu menyinggung orang lain bukan karena kamu salah bicara, melainkan karena kamu bicara benar.
-
Yang membuatmu merasa dipermalukan bukanlah karena EQ-nya rendah, melainkan karena dia meremehkanmu.
-
Orang yang punya ketegasan dan batasan yang jelas, tidak akan berani ditindas oleh orang lain.
-
Inti dari penderitaanmu adalah ketakutanmu untuk berselisih dengan orang lain. Saat tidak punya uang pun jangan tunjukkan kelemahan — justru tegakkan punggungmu lebih lurus.
-
Anjing tetaplah anjing, tapi manusia belum tentu manusia. Kenyataannya, ada hal-hal yang hanya kamu sendiri yang menyesalinya. Tanpa “pili shouduan” (pi-li shou-duan — metode halilintar / ketegasan yang dahsyat), jangan coba-coba menjalankan “pusa xinchang” (pu-sa xin-chang — hati welas asih seorang Bodhisattva).
-
Kebebasan sejati dalam hidup bukanlah bisa melakukan apa pun yang kamu mau, melainkan bisa mengatakan “tidak” kapan saja terhadap apa yang tidak ingin kamu lakukan.
-
Hidup hanya akan semena-mena menindas orang yang penakut dan lemah.
-
Orang yang pandai mencari uang tidak ada yang bodoh — jangan meremehkan orang lain.
-
Jauhi orang yang tidak mau keluar uang, tidak mau keluar tenaga, tapi masih suka mengatur-atur.